Jumat, 03 Desember 2010

ILHAM DAN KASYAF APAKAH SAMA.??

“Iman yang tulus, ibadah yang
benar dan mujahadah akan
membuahkan cahaya dan
kelezatan yang Allah percikan ke
dalam hati siapa saja yang la
kehendaki. Akan tetapi ilham,
lintasan hati, kasyaf, dan mimpi
tidak termasuk dalil-dalil syar’i dan
tidak pula diperhitungkan
(dianggap), kecuali dengan syarat
tidak bertentangan dengan hukum-
hukum agama dan nash-nashnya. ”
Iman yang benar berarti
mengikrarkan dengan lisan,
membenarkan dengan hati, dan
beramal dengan anggota badan.
Imam Syafi ’i dalam kitabnya Al-
Umm berkata, “Kesepakatan para
sahabat, tabi’in, dan generasi
sesudah mereka yang kami ketahui,
mengatakan bahwa iman adalah
ucapan, perbuatan, dan niat, salah
satu di antara ketiganya tidak
mencukupi kecuali dengan yang
lain. ” Imam Ahmad berkata,
“Karena itu, menurut ahlusunah
ungkapan yang mengatakan bahwa
iman adalah ucapan dan perbuat
termasuk syiar-syiar Sunah. ”
Nash-nash Al-Quran dan hadits yang
menunjukkan pengertian di atas
sangat banyak dan terkenal.
Mereka sepakat bahwa orang yang
mengikrarkan keimanan dengan
lisannya secara nyata, namun
mendustakan dengan hatinya, tidak
termasuk mukmin. Orang seperti
inilah yang disebut munafik,
sebagaimana dijelaskan oleh Allah
dalam firman-Nya, Dan di antara
sebagian manusia ada segolongan
yang mengatakan, “Kami beriman
kepada Allah dan hari akhir."
Padahal mereka tidak termasuk
orang-orang yang beriman (Al-
Baqarah: 8 ). Dalam firman-Nya
yang lain Allah menjelaskan bahwa
bagi mereka disediakan azab yang
lebih berat daripada orang yang
jelas-jelas menentang (kufur),
dengan memasukkan mereka pada
tingkatan neraka yang paling
rendah, Sesungguhnya orang-orang
munafik berada pada tingkatan
yang paling rendah dari neraka (An-
Nisa ‘: 145).
Para ulama sepakat bahwa
pengakuan dengan hati saja tidak
cukup untuk merealisasikan makna
iman. Karenanya, pengakuan harus
diikuti ikrar dengan lisan. Fir ’aun dan
kaum-nya mengakui kebenaran
Musa dan Harun a.s. namun mereka
adalah kafir. Allah Swt. berfirman
tentang perkataan Musa kepada
Fir ’aun, Sesungguhnya kamu
(Fir’aun) telah mengetahui bahwa
tidak ada yang menurunkan
mukjizat-mukjizat itu, kecuali Tuhan
Yang Memelihara langit dan bumi
sebagai bukti yang nyata (Al-Isra ’:
102). Orang-orang Ahli Kitab dahulu
mengenal dan mengakui Nabi kita
Saw., namun mereka tidak beriman
kepadanya. Allah berfirman, Orang-
orang yang telah Kami berikan
kitab kepadanya, mengenal-nya
(Muhammad) sebagaimana
mengenal anak-anak mereka
sendiri. Orang-orang yang
merugikan dirinya, mereka tidak
beriman (Al-An ’am: 20). Bahkan iblis
juga mengenal Allah, tetapi ia tetap
menjadi pemimpin orang-orang
kafir.
Para ulama sepakat bahwa apabila
seorang hamba telah
membenarkan dengan hatinya, dan
mengikrarkan dengan lisannya,
namun menolak untuk beramal,
maka ia termasuk orang yang
durhaka kepada Allah dan Rasul-
Nya dan berhak mendapatkan
ancaman siksa yang Allah sebutkan
dalam kitab suci-Nya dan
diberitahukan oleh Rasul-Nya Saw.
Selain itu, ia juga mendapat
hukuman di dunia.
Tidak ada perbedaan pendapat di
kalangan ahlusunah bahwa dengan
melihat rahmat dan janji Allah, iman
yang mencakup pembenaran,
pernyataan, dan amal menjadikan
seseorang masuk surga dan tidak
kekal di neraka.
Sedangkan menurut pandangan
hukum dunia, iman adalah cukup
dengan mengikrarkan dua kalimat
syahadat. Siapa yang mengikrarkan
keduanya diberlakukanlah hukum
dunia kepadanya. la dituntut
komitmen dengan konsekuensi-
konsekuensinya, mendapat hak-
haknya, dan ia tidak dihukum
sebagai kafir, kecuali apabila
melakukan ucapan maupun
perbuatan yang merusak
syahadatnya. Prinsip ini didasarkan
kepada sabda Rasulullah Saw., Aku
diperintahkan untuk memerangi
manusia hingga mereka bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Jika mereka mau mengatakannya,
artinya mereka telah menjaga
darah dan harta-harta mereka dari
(tindakan)ku kecuali dengan
haknya (HR. Muslim).
Jika Anda telah memahami ini,
maka ketahuilah bahwa iman yang
benar adalah mencakup ketiga
makna di atas, tanpa terpisah-pisah.
Allah Swt. berfirman, Sesungguhnya
orang-orang yang beriman
hanyalah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan
berjihad dengan harta dan jiwa
mereka di jalan Allah, Mereka itulah
orang-orang yang benar (Al-Hujurat:
15).
Ibadah yang benar adalah buah dari
keimanan yang benar. Para ulama
mendefinisikan bahwa ibadah
adalah sebuah kata yang mencakup
segala hal yang dicintai dan diridhai
Allah, berupa ucapan dan perbuatan
lahir maupun batin. Ibadah adalah
tujuan yang dicintai dan diridhai
Allah Swt. dan untuk itulah Allah
menciptakan makhluk-Nya,
Sesungguhnya Aku tidak
menciptakan jin dan manusia
kecuali agar mereka menyembah-
Ku (Adz-Dzariyat: 56). Untuk tujuan
itu pula Allah mengutus rasul-rasul-
Nya, Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus pada seorang rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan),
“ Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah taghut itu,” maka di antara
umat itu ada orang-orang yang
diberi petunjuk oleh Allah dan ada
pula di antaranya orang-orang yang
telah pasti kesesatan baginya (An-
Nahl: 36). Dan Kami tidak mengutus
seorang rasul pun sebelum kamu,.
melainkan Kami wahyukan
kepadanya, “Bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang hak) melainkan Aku,
maka sembahlah Aku. ” (Al-Anbiya’:
25) Allah menjadikan ibadah itu
sebagai sesuatu yang harus tetap
dilakukan oleh Rasul-Nya sampai
mati. Allah berfirman, Dan
sembahlah Tuhanmu hingga datang
al-yaqin (kematian) (Al-Hijr: 99).
Rabu pukul 9:16 · Suka
Tanya Jawab Masalah Islam
Secara keseluruhan, agama
termasuk ibadah berdasarkan hadits
Jibril yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Muslim. Hanya, ibadah
yang diperintahkan mencakup dua
makna sekaligus, yaitu kerendahan
dan kecintaan. Ibadah mengandung
makna puncak kehinaan dan
kecintaan kepada Allah Swt.,
Katakanlah, “Jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, istri-
istri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatirkan
kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai,
lebih kamu cintai daripada Allah dan
Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya,
maka tunggulah sampai A-lah
mendatangkan keputusan-Nya. ”
Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang fasik (At-
Taubah: 24).
Jika ibadah yang benar adalah
ibadah yang mencakup makna-
makna di atas, maka ibadah itu
tidak benar dan tidak diterima di sisi
Allah apabila belum dilakukan oleh
hamba sesuai dengan syariat Allah.
Demikian itu karena Allah tidak
menerima amal perbuatan maupun
ucapan, kecuali yang disyariatkan
dan diperintahkan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya. Allah Swt. tidak
akan menerima ibadah-ibadah baru
yang diada-adakan oleh hamba-
hamba-Nya. Rasulullah Saw.
bersabda, Barangsiapa membuat
hal-hal yang baru (yang tidak
termasuk) dalam agama kami,
maka ia tertolak. Dalam riwayat
lain, Barangsiapa mengamalkan
suatu amalan yang tidak ada dalam
ajaran agama kami, maka ia
tertolak. Dalam riwayat yang lain,
Sesungguhnya setiap yang baru
adalah bid ’ah dan setiap bid’ah
adalah dhalalah (sesat).
Ibadah yang benar tidak mungkin
diwujudkan dan dicapai kecuali
dengan mujahadatun nafs wal hawa
(bersungguh-sungguh
mengendalikan diri dan memerangi
nafsu). Allah Swt. berfirman, Dan
orang-orang yang berjihad untuk
(mencari keridhaan) Kami, benar-
benar akan Kami tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar
menyertai orang-orang yang
berbuat baik (Al- ’Ankabut: 69).
Orang yang memahami ayat ini
secara proporsional, tepat,
mengetahui maknanya, dan
mengamalkan konsekuensinya,
akan memperoleh kebaikan yang
sangat banyak.
Rasulullah telah menjelaskan
hakikat mujahadah ini dengan
sabdanya, Mujahid adalah
seseorang yang berjihad melawan
diri dan hawa nafsunya (HR.
Ahmad). Berjihad melawan diri
adalah mengarahkannya kepada
perintah Allah dalam segala hal, di
antaranya berjihad melawan setan
dan musuh.
Langkah pertama dalam mujahadah
adalah beriman kepada Allah,
mengesakan-Nya, dan mengakui
kerasulan Nabi Muhammad Saw.
Dalam lingkungan Islam terkadang
orang tidak menyadari bahwa
masalah ini termasuk dalam bab
mujahadah, sehingga ia tidak perlu
menyebutnya. Ini jelas kesalahan
besar. Sesuatu yang paling besar
adalah jika seseorang mampu
beralih dari kekafiran menuju
keimanan atau menyatakan
imannya pada lingkungan yang
menentang iman dan melecehkan
pemeluknya. Allah berfirman, Dan
barangsiapa beriman kepada Allah,
niscaya Dia akan memberi petunjuk
kepada hatinya (At-Taghabun: 11).
Langkah kedua adalah menjalankan
kewajiban-kewajiban sesuai dengan
waktunya, seperti: shalat, puasa,
zakat, haji, nikah, bermuamalah,
dan lain-lain. Langkah yang ketiga
adalah secara tertib menjalankan
ibadah-ibadah sunah, berupa: shalat,
sedekah, puasa, haji, doa, zikir, dan
membaca Quran. Selanjutnya
langkah keempat adalah
mengendalikan diri untuk selalu
melaksanakan hal-hal yang bersifat
azimah (ibadah-ibadah dalam
bentuknya yang ideal) serta
mentarbiahkannya dengan amal-
amal berat yang bermanfaat,
seperti: khalwat (menyendiri), diam
kecuali dalam hal-hal yang
mewajibkan berbicara, begadang
malam untuk beribadah, shalat,
tilawah, zikir, lapar karena
melakukan puasa pada hari-hari
yang disunahkan, dan amal-amal
lain yang disyariatkan. Langkah
kelima adalah perenungan diri, hati,
menyingkap penyakit-penyakit
hati, dan mengobatinya. Inilah
langkah terakhir dalam mujahadah,
sekaligus merupakan salah satu
hasilnya yang utama. Dua langkah
terakhir inilah yang mendominasi
pembahasan dan pembicaraan
banyak kalangan tentang
mujahadah.
Iman yang benar lagi sempurna,
ibadah yang sahih sesuai dengan
petunjuk syara ’, dan mujahadah
yang terbingkai dengan kaidah dan
ajaran syara ’, akan menghasilkan
pengaruh besar yang tampak pada
diri manusia di dunia dan akhirat.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam
Syahid Hasan Al-Hanna, "…cahaya
dan kenikmatan yang Allah
percikan ke dalam hati siapa saja,
yang la kehendaki di antara hamba-
hamba-Nya." Cahaya (nur) adalah
hal yang diisyaratkan dalam firman
Allah Swt., Dan apakah orang yang
sudah mati kemudian Kami
hidupkan dan Kami berikan cahaya
yang terang, yang dengan cahaya
itu ia dapat berjalan di tengah-
tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang
keadaannya berada dalam gelap
gulita yang sekali-kali tidak dapat
keluar daripadanya? Demikianlah
Kami jadikan orang yang kafir itu
memandang baik apa yang telah
mereka kerjakan (Al-An ’am: 122).
Rabu pukul 9:17 · Suka
Tanya Jawab Masalah Islam
Hakikat dan pengaruh iman telah
diungkapkan oleh Sayid Qutub
dalam tafsirnya, “Seseorang akan
mendapati cahaya ini didalam
hatinya, sehingga ia mendapatkan
kejelasan dalaim segala urusan, hal,
dan kejadian. Mendapatkan
kejelasan dalam jiwa, dan niat-
niatnya, lintasan-lintasan hatinya,
langkah, serta geraknya.
Mendapatkan kejelasan dalam
segala hal yang terjadi di
sekitarnya, baik yang berupa
sunatullah, aktivitas-aktivitas
manusia, niat, dan langkah-langkah
mereka, yang tampak maupun
yang tersembunyi. Mendapatkan
tafsir berbagai peristiwa dan sejarah
dalam jiwa dan akalnya, serta
dalam realitas kehidupan di
sekitarnya, seakan-akan ia
membaca buku. Seseorang yang
telah mendapatkan cahaya ini
dalam hatinya akan mendapatkan
kecemerlangan dalam lintasan-
lintasan hati, perasaan, dan
kemauannya, sehingga ia pun
mendapatkan kenikmatan dan
kesejukan dalam hati, suasana, dan
masa depannya. Ia akan
mendapatkan kelembutan dan
kemudahan dalam mengatur segala
urusan dan mengeluarkan
keputusan, serta dalam menghadapi
maupun melewati kejadian. Ia akan
mendapatkan ketenangan,
kepercayaan, dan keyakinan dalam
segala situasi dan kapan pun juga. ”
‘"
Cahaya yang mempunyai pengaruh
luas dalam diri manusia dan
menghasilkan banyak hal
menakjubkan yang tampak dalam
kehidupan seorang mukmin yang
tercerahkan ini, kemungkinan
terbentuknya telah ditunjukkan oleh
Al-Quran dan Sunah, dinyatakan
oleh para ulama, dan didukung oleh
kejadian-kejadian yang nyata.
Karena itu Imam Syahid Hasan Al-
Banna rahimahullah
menyebutkannya dalam prinsip ini
sebagai pengakuan akan
kebenarannya, sekaligus memberi
bingkai syar ’i agar orang-orang
yang tidak mendapatkan
pencerahan dari sumber-
sumbernya, karena hanya
mendapat bisikan nafsu dan
inspirasi setan, tidak melampaui
batas.
Pada kesempatan yang sama,
beliau tidak mengabaikan hal-hal
yang memang seharusnya
dikatakan, tidak seperti yang
dilakukan oleh orang-orang yang
tidak memahami syariat dan tidak
mengetahui dalil-dalil yang benar.
Karena itu Imam Syahid
mengatakan, “Akan tetapi ilham,
lintasan hati, kasyaf, dan mimpi
tidak termasuk dalil-dalil syar ’i dan
tidak pula diperhitungkan
(dianggap), kecuali dengan syarat
tidak bertentangan dengan hukum-
hukum agama dan nash-nashnya. ”
Agar kebenaran dalam masalah ini
menjadi jelas, harus diberi
keterangan dan penjelasan. Karena
itu, kami coba terangkan:
Pertama, ilham
Ilham adalah pengaruh yang Allah
berikan dalam jiwa seseorang
sehingga mendorongnya untuk
mengerjakan atau meninggalkan
sesuatu. la merupakan salah satu
jenis wahyu yang Allah khususkan
bagi siapa saja di antara hamba-
hamba-Nya yang Ia kehendaki.
Allah Swt. berfirman,
Dan jiwa serta penyempurnaannya
(penciptaannya), maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan
ketakwaannya (Asy-Syams: 7-8).
Rasulullah Saw. berdoa,
Ya Allah ilhamkanlah kepadaku
kebenaran dan lindungilah akim dari
keburukan jiwaku (HR. Turmudzi).
Ilham lebih umum daripada tahdits
karena ilham berlaku umum bagi
orang-orang yang beriman sesuai
dengan tingkat imannya. Setiap
mukmin mendapatkan ilham
kebenaran dari Allah Swt. sesuai
dengan tingkat keimanannya.
Adapun tahdits, Rasulullah Saw.
telah menjelaskan dalam sabdanya,
” Jika ada orang yang muhadats[1]
dari umatku, maka Umar-lah
orangnya ” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bentuk ilham yang banyak dikenal,
antara lain berupa pesan yang
diberikan ke dalam hati seorang
mukmin, melalui pembicaraan
malaikat dengan ruhnya. Dalam
sebuah hadits diriwayatkan bahwa
Nabi Saw. bersabda, Sesungguhnya
malaikat mempunyai hasrat di hati
anak Adam, demikian juga setan.
Hasrat malaikat berupa ajakan
untuk kebaikan dan membenarkan
ancaman Allah Swt., sedangkan
hasrat setan adalah ajakan untuk
melakukan kejahatan dan
mendustakan janji Allah, –
kemudian beliau membaca firman
Allah – "Setan itu menjanjikan
kefaqiran kepadamu dan
memerintahkan perbuatan yang
keji, sedangkan Allah menjanjikan
ampunan dan anugerah
kepadamu. ” (HR. Turmudzi).
Allah Swt. berfirman, (Ingatlah),
ketika Tuhanmu mewahyukan
kepada para malaikat, “
Sesungguhnya Aku bersama kamu,
maka teguhkanlah (pendirian)
orang-orang yang telah
beriman. ” (Al-Anfal: 12).
Sebebagian ulama menafsirkan
ayat ini dengan "Wahai malaikat
kuatkanlah hati orang-orang yanng
beriman dan berilah kabar gembira
kepada mereka dengan
kemenangan. ” Sebagian yang lain
mengatakan, “Hadirlah wahai
malaikat bersama orang-orang
mukmin di medan perang. ” Kedua
penafsiran itu sama-sama benar,
karena malaikat memang hadir
bersama orang-orang mukmin di
medan perang dan meneguhkan
hati
mereka. Termasuk kategori pesan
ini adalah nasihat yang diberikan
oleh Allah Swt. kepada hati hamba-
hambanya yang mukmin,
sebagaimana yang diungkapkan
dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Turmudzi dan Imam
Ahmad dari sahabat Nawwas bin
Sam ’an dari Nabi Muhammad Saw.
Bahwa beliau bersabda,
Sesungguhnya Allah membuat
perumpamaan berupa sebuah jalan
yang lurus. Pada kedua sisi jalan
tersebut terdapat dua dinding yang
masing-masing mempunyai pintu
yang terbuka. Pada masing-masing
pintu terdapat gorden, ada penyeru
di ujung jalan, dan ada pula penyeru
di atas jalan. Jalan yang lurus adalah
Islam, kedua dindingnya adalah
batas-batas Allah, dan pintu-pintu
yang terbuka adalah hal-hal yang
diharamkan oleh Allah. Tidak ada
Rabu pukul 9:18 · Suka
Tanya Jawab Masalah Islam
seorang pun yang melanggar suatu
batas di antara batas-batas Allah,
kecuali bila ia menyingkap gorden
itu. Penyeru yang berada pada
ujung jalan adalah Kitabullah,
sedangkan penyeru yang berada di
atas jalan adalah penasihat dari
Allah dalam hati orang yang
beriman. Penasihat yang ada dalam
hati orang-orang yang beriman
itulah ilham Ilahi dengan
perantaraan malaikat.
Termasuk ilham adalah firasat, yaitu
cahaya yang Allah berikan ke
dalam untuk membedakan antara
haq dan batil dan antara yang jujur
dan dusta. Allah berfirman,
Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-
tanda (kekuasaan Kami) bagi
mutawasimin (orang-orang yang
memperhatikan tanda-tanda) (Al-
Hijr: 75). Menurut Mujahid r.a. yang
dimaksud mutawasimin adalah
mutafarisin (orang-orang yang
diberi firasat). Imam Turmudzi
meriwayatkan dari Abi Sa ’id r.a. dari
Nabi Saw. bahwa beliau bersabda,
Takutlah kalian kepada firasat orang
mukmin, karena ia memandang
dengan cahaya Allah Azza wa Jalla.
Kemudian beliau membaca,
“ Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi
mutawasimin (orang-orang yang
memperhatikan tanda-tanda)." (Al-
Hijr: 75).
Firasat ada tiga macam:
1. Firasat imaniyah, yaitu firasat
orang-orang yang beriman. Jenis ini
selalu tegak di atas kebenaran.
2. Firasat riyadhiyah, ialah firasat
yang dihasilkan melalui lapar,
begadang, dan menyendiri.
Demikan itu terjadi karena jiwa
terbebas dari penghalang-
penghalangnya, maka firasat dan
kasyaf akan didapatkan sesuai
dengan tingkat kebebasan-nya dari
penghalang tersebut.
3. Firasat khalqiyah, ialah firasat
yang para dokter menulis
tentangnya. Mereka mencoba
menghubungkan antara sifat-sifat
fisik dengan sifat-sifat psikis karena
memang ada kaitan yang
dikehendaki hikmahnya oleh Allah.
Dua jenis firasat yang terakhir ini
bisa dimiliki oleh siapa saja, baik
mukmin maupun kafir, tidak
menunjukkan keiman-an dan
kewalian, serta tidak menyingkap
tentang kebenaran yang
bermanfaat maupun jalan yang
lurus. ‘”
Kedua, khawathir
Khawathir jamak khatir yaitu
sesuatu yang terlintas dalam hati
berupa rencana atau perintah.
Apabila baik, maka itu merupakan
bagian dari cahaya dan pengaruh
iman, serta petunjuk adanya taufik
dari Allah. Namun apabila
sebaliknya, maka ia merupakan tipu
daya dan bisikan setan,
sebagaimana disebutkan dalam
hadits sujud sahwi, Hingga setan
melintas antara seseorang dan
hatinya, dan dalam hadits Ibnu
Abbas r.a., Ketika Nabi berdiri untuk
melaksanakan shalat, tiba-tiba
melintas suatu lintasan dalam
hatinya. Maka orang-orang munafik
pun mengomentari bahwa beliau
mempunyai dua hati.
Ketiga, kasyaf
Imam 1bnul Qayyim rahimahullah
mengatakan, "Mukasyafah yang
benar adalah ilmu-ilmu yang Allah
munculkan di hati hamba-Nya.
Dengan ilmu itu Allah Swt.
memperlihatkan kepadanya hal-hal
yang tersembunyi bagi orang lain.
Terkadang Allah Swt. membantu
seseorang untuk memilikinya, tapi
terkadang menghalanginya dengan
membuatnya lupa dan
menyembunyikannya dari orang itu
dengan kabut yang membuat
hatinya keras, itulah setipis-tipis
penghalang. Dengan mendung yang
lebih tebal dari kabut, atau dengan
tutup yang menjadi penghalang
paling tebal. ”
Penghalang paling tipis terkadang
dialami oleh para nabi a.s.
Sebagaimana sabda Nabi Saw.,
Sesungguhnya hatiku berkabut dan
sesungguhnya aku beristigfar
kepada Allah sebanyak seratus kali
dalam sehari (HR. Muslim).
Penghalang yang berupa mendung
terjadi pada orang-orang mukmin.
Sedangkan penghalang yang
berupa tutup terjadi pada orang-
orang yang didominasi oleh
kemalangan. Allah Swt. berfirman,
Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu
mereka usahakan itu menutup hati
mereka (Al-Muthafifin: 14). Ibnu
Abbas dan lainnya mengatakan
bahwa ia adalah dosa dan dosa
menutupi hati hingga menjadi
tertutup seluruhnya.
Kasyaf yang benar adalah jika
seorang Muslim mengetahui
kebenaran yang dibawa oleh
Rasulullah Saw. dan diturunkan
dalam kitab-kitab suci secara jelas
dalam hatinya. Kemudian ia
dedikasikan kehendak hatinya
kepadanya dan senantiasa
bersamanya dalam segala kondisi.
Inilah kesimpulan yang benar, bila
tidak demikian maka itu adalah
tipuan yang buruk. Demikian itu
dalam hal-hal yang berkaitan
dengan mukasyafat hati, salah satu
sumber kasyaf ketika hati jernih,
berjalan di atas jalan yang lurus,
serta menjauhi bid ’ah dan
kesesatan. Adapun kasyaf
penglihatan dan pendengaran, yang
dimaksud oleh Imam Syahid Hasan
Al-Banna dalam prinsip ini, Ibnu
Qayyim rahimahullah telah
mengklasifikasikannya menjadi tiga
jenis: kasyaf rahmani, yang khusus
bagi orang-orang yag beriman,
kasyaf nafsani, dan kasyaf
syaithani, yang dijelaskan dalam
pernyataannya, “Adapun kasyaf
juz’i yaitu yang dapat dimiliki oleh
orang-orang mukmin dan orang-
orang kafir, juga oleh orang-orang
baik maupun orang-orang jahat,
seperti: mengetahui apa yang ada
di rumah seseorang, tongkat di
tangannya, di bawah pakaiannya,
atau jenis kelamin janin yang ada
dalam kandungan istrinya. Adapun
yang tidak terlihat oleh seorang
hamba berupa hal-hal yang sangat
jauh, terkadang berasal dari setan
atau dari dirinya sendiri. Karena
itulah, maka hal itu bisa terjadi pada
orang-orang kafir, seperti orang-
orang yang melakukan
kemaksiatan, penyembah api, dan
salib.
Rabu pukul 9:19 · Suka
Tanya Jawab Masalah Islam Ibnu
Shayyad dapat mengetahui apa
yang disembunyikan oleh Nabi,
kemudian Rasulullah Saw. berkata
kepadanya, "Engkau ini hanyalah
sebagian dari teman para dukun."
Nabi menerangkan bahwa kasyaf
yang dimilikinya termasuk kasyaf
perdukunan dan hal itu mungkin.
Demikian pula Musailamah Al-
Kadzab, betapapun kekafiran yang
dilakukannya, ia mampu
menceritakan kepada para
pengikutnya tentang apa yang
dilakukan oleh salah seorang dari
mereka di rumahnya, dan apa yang
dikatakannya kepada istrinya.
Setanlah yang memberikan kabar
kepadanya, untuk menyesatkan
manusia. Demikian pula Al-Aswad
Al-Unsi dan Harits Al-Mutanabbi
yang memberontak pada masa
pemerintahan Abdul Malik bin
Marwan, serta orang-orang semisal
mereka yang hanya diketahui oleh
Allah. Kita telah mengetahui dan
orang-orang juga telah
menyaksikan kasyaf dari para
pendeta penyembah salib.
Contoh kasyaf rahmani adalah
kasyaf dari Abu Bakar r.a., ketika
beliau berkata kepada Aisyah r.a.
bahwa sesungguhnya istrinya
mengandung janin perempuan.
Kasyaf Umar r.a. ketika beliau
berkata, “Wahai pasukan naiklah ke
gunung.” Kasyaf-kasyaf ini
termasuk kasyaf para wali Allah.
Kesimpulannya, Said Hawwa
menjelaskan bahwa kasyaf adalah
sesuatu yang mungkin terjadi,
orang-orang yang melakukan
perjalanan spiritual menuju Allah
dapat mencapainya. Ia merupakan
salah satu wujud anugerah Allah
Swt. sekaligus sebagai ujian dari-
Nya. Tapi kita semua komitmen
dengan nash, bukan dengan kasyaf.
Kasyaf tidak bisa digunakan sebagai
dasar untuk menetapkan keyakinan
baru dan tidak pula untuk
menambah nash-nash yang ada.
Umat tidak diwajibkan beribadah
dengannya. Mereka tidak harus
mempercayai pemiliknya, walaupun
ia termasuk orang yang jujur. Hal itu
karena hatinya tidak ma ’shum
berkaitan dengan masalah gaib.
Selain itu, kemungkinan terjadi ilusi
juga sangat besar. Karena kasyaf
terkadang menjadi ujian bagi
seseorang atau sekelompok orang,
maka ia kadang menurunkan
derajatnya.
Dengan batas-batas ini, jelaslah
kedudukan kasyaf dalam syariat
Allah, dan kita memahami maksud
dari ungkapan Imam Syahid Al-
Banna rahimahullah bahwa ia tidak
termasuk dalil-dalil hukum syar’i
dan tidak diperhitungkan
(dianggap), kecuali dengan syarat
tidak bertentangan dengan hukum-
hukum agama dan nash-nashnya.
Keempat, mimpi-mimpi dalam tidur
Jika benar, ia merupakan salah satu
pengaruh iman dan tingkatan
hidayah. la termasuk bagian dari
kenabian, sebagaimana
diriwayatkan dari Nabi Saw. bahwa
beliau bersabda, Mimpi yang baik
adalah bagian dari empat puluh
enam bagian nubuwah (Shahih
Bukhari dan Muslim).
Mimpi adalah permulaan wahyu.
Kebenarannya tergantung kepada
kejujuran orang yang bermimpi.
Orang yang paling benar mimpinya
adalah orang yang paling jujur
perkataannya. Ketika zaman
semakin dekat, hampir tidak ada
kesalahan dalam mimpi yang baik,
sebagaimana disabdakan oleh Nabi
Saw, Demikian itu karena semakin
jauhnya masa dari kenabian dan
pengaruhnya. Karena itu, orang-
orang mukmin mengambil ganti
dengan mimpi. Adapun pada masa
kuatnya cahaya kenabian, dengan
cahayanya yang terang,
menjadikan mereka tidak
membutuhkan mimpi-mimpi itu.
Nabi Saw. bersabda, Tidak ada lagi
bagian dari nubuwah selain
mubasyirat. Ada yang bertanya,
” Apa itu mubasyirat, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab “Ia
adalah mimpi baik yang dialami
sendiri oleh seorang Muslim atau
diimpikan oleh orang lain." (HR.
Bukhari).
Jika mimpi-mimpi kaum Muslimin
sama, maka tidak dapat didustakan.
Nabi telah mengatakan kepada
para sahabatnya ketika mereka
bermimpi melihat lailatul qadar
pada sepuluh hari terakhir di bulan
Ramadhan. Beliau Saw. bersabda,
Saya melihat mimpi kalian sudah
saling memperkuat bahwa lailatul
qadar terjadi pada sepuluh hari
terakhir di bulan Ramadhan. Karena
itu, barangsiapa di antara kalian
yang hendak mencari-carinya maka
lakukanlah pada sepuluh hari
terakhir (HR. Bukhari).
Sebagaimana kasyaf, mimpi juga
terbagi menjadi tiga bagian:
rahmani, nafsani, dan syaithani. Nabi
Saw. bersabda, Mimpi ada tiga, yaitu
mimpi dari Allah, mimpi penyedihan
setan, dan mimpi dengan melihat
kembali apa yang pernah terjadi
pada dirinya saat ia terjaga.
Mimpi yang menjadi sebab
datangnya petunjuk adalah mimpi
yang khususnya datang dari Allah.
Mimpi para nabi adalah wahyu,
karena mimpi ini terpelihara dari
setan. Inilah yang diyakini oleh
umat. Karena itulah maka
nabiyullah Ibrahim a.s.
melaksanakan perintah
menyembelih putranya, Ismail
berdasarkan mimpi itu."
Rabu pukul 9:20 · Suka
Tanya Jawab Masalah Islam
Adapun mimpi selain para nabi,
disesuaikan dengan wahyu yang
jelas. Jika sesuai, bisa diterima. Jika
tidak, tidak boleh diamalkan.
Apabila ditanyakan, "Bagaimana
pendapat kalian tentang mimpi
yang baik atau mimpi-mimpi orang
banyak yang sepakat atas
sesuatu ?” Kami menjawab, “Jika
memang demikian, maka tidak
mungkin menyalahi wahyu, bahkan
pasti sesuai dengannya, untuk
menyadarkannya atau
menyadarkan akan masuknya
suatu permasalahan khusus dalam
hukum wahyu, sedangkan orang
yang bermimpi tidak menyadari
bahwa hal itu termasuk di
dalamnya, sehingga dengan mimpi
itu ia menjadi tersadarkan. ”’
Selanjutnya kaum Muslimin sepakat
bahwa mimpi bagi selain para nabi
tidak boleh dijadikan sebagai
sumber hukum dan perundang-
undangan. Jika mereka bertanya,
“ Apabila seseorang bermimpi
melihat Nabi Saw. padahal setan
tidak mungkin menyerupainya,
kemudian beliau Saw.
memerintahkan suatu hal yang
bertentangan dengan syariat ’?” Kita
katakan kepadanya, “Engkau
sedang berangan-angan.” Ia tidak
boleh bertindak berdasar mimpinya
itu, apalagi mimpi-mimpi yang lain?
Barangsiapa menginginkan mimpi
yang benar, maka hendaklah ia
berusaha untuk selalu jujur, makan
yang halal, memperhatikan perintah
dan larangan, tidur dalam keadaan
suci sepenuhnya, menghadap kiblat,
dan zikir kepada Allah hingga
tertidur. Jika demikian, insya Allah
mimpinya tidak berdusta.
Mimpi yang paling benar adalah
mimpi pada waktu sahur, karena
saat itu merupakan waktu turunnya
Allah ke langit dunia, saat dekatnya
rahmat dan ampunan, serta
diamnya setan-setan. Kebalikannya
adalah mimpi pada sepertiga
malam yang pertama, saat setan-
setan dan ruh-ruh syaithaniyah
bergentayangan. Ubadah bin Shamit
r.a. berkata, “Mimpi seorang
mukmin adalah kalam Allah kepada
hamba-Nya pada waktu tidur. ”
Kesimpulannya, ilham, khawathir,
kasyaf, dan mimpi merupakan
pengaruh cahaya iman, jika keluar
dari seorang mukmin yang jujur.
Banyak bukti-bukti lahiriah dan
pengalaman batin yang
menguatkan akan hal itu. Ia adalah
karamah dari Allah bagi mereka, di
samping juga merupakan ujian
untuk menguji keteguhan dan
konsistensi dalam keimanan.
Meskipun demikian, sebagaimana
dikatakan oleh Imam. Syahid Al-
Banna rahimahullah, ia bukan
termasuk dalil-dalil hukum syar ’i,
karena dalil-dalil hukum syar’i
disyaratkan bahwa sumbernya
ma ’shum, sementara di sini tidak
ada ke-ma’shum-an, karena tidak
ada ke-ma’shum-an yang dapat ter-
bukti secara syar’i berdasarkan
firman Allah dan sabda Rasul Saw.,
atau berdasarkan ijmak kaum
Muslimin. Padahal di sini tidak ada
sedikit pun dari semua itu.
Meskipun demikian, apabila
karamah-karamah itu berasal dari
Allah Swt. maka tidak mungkin
bertentangan dengan syariat.
Adapun jika berasal dari diri sendiri
dan setan, maka ia tidak dapat
dipercaya, karena sedikit sekali
yang sesuai dengan syariat atau
konsisten pada masalah yang
diridhai. Imam Syahid mengatakan,
“ Semua karamah itu tidak dianggap,
kecuali dengan syarat tidak
bertentangan dengan hukum-
hukum agama dan nash-nash-nya.”
Wallahu a’lam.
Kenikmatan yang lahir dari
keimanan dan kesahihan ibadah,
serta mujahadah yang baik, adalah
kenikmatan hakiki yang dirasakan
oleh jiwa orang yang beriman,
sebagaimana lidah merasakan
lezatnya makanan, seperti
disebutkan dalam banyak hadits-
hadits sahih, di antaranya sabda
Rasulullah Saw., Akan merasakan
lezatnya iman orang yang ridha
bahwa Allah sebagai Tuhan-nya,
Islam sebagai agamanya, dan
Muhammad Saw. sebagai rasulnya
(HR. Muslim). Tiga hal, barangsiapa
seluruhnya ada dalam diri
seseorang, maka ia akan
merasakan nikmatnya iman.
Dalam riwayat lain, akan
merasakan nikmatnya iman, orang
yang lebih mencintai Allah dan
Rasul-Nya daripada selain
keduanya, jika seorang mencintai
sahabatnya, ia tidak mencintai-nya
kecuali karena Allah Swt., dan tidak
mau kembali kepada kekafiran
setelah Allah Swt. menyelamatkan
diri darinya, sebagaimana ia tidak
mau dimasukkan dalam neraka.
Para ulama berkata, “Makna
kenikmatan iman adalah merasa
nikmat dalam melakukan ketaatan
dan memikul beban dalam mencari
keridhaan Allah dan Rasul-Nya, lebih
mengutamakan hal itu daripada
tujuan-tujuan duniawi, kecintaan
seorang hamba kepada Tuhannya
Swt. dengan menjalankan ketaatan
kepadanya dan meninggalkan
kedurhakaan terhadap-Nya, di
samping juga mencintai Rasulullah
Saw. ”
semua itu tidak mungkin dicapai
kecuali oleh orang yang hatinya
telah bersenyawa dengan iman,
sehingga kenikmatan iman mampu
mendominasi hatinya. Karena itu,
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa
iman memberikan kenikmatan
yang berkaitan dengan rasa dan
selera. Keraguan dan syubhat tidak
akan hilang dari hati, kecuali apabila
seseorang telah mencapai keadaan
seperti ini. Iman benar-benar telah
bersenyawa dengan hatinya, hingga
ia merasakan kelezatannya dan
menemukan kenikmatannya. ”’
Rasa inilah yang dijadikan Heraclius
sebagai dalil akan benarnya
kenabian, saat ia bertanya kepada
Abu Sufyan, "Adakah seorang di
antara pengikut Muhammad yang
murtad karena marah kepada
agamanya?” “Tidak," jawab Abu
Sufyan. Heraclius pun berkomentar,
“ Demikianlah iman, ketika ia telah
bersenyawa dengan keceriaan hati."
Kenikmatan hakiki yang selalu
bergelora inilah yang telah
dibuktikan oleh para sahabat r.a.,
salafusaleh, dan orang-orang yang
melakukan interaksi yang benar
dengan Allah Swt. serta dengan
agama-Nya yang terakhir. Jika kami
hendak memuat contoh-contohnya,
tentu akan menghabiskan buku
berjilid-jilid. Kami cukupkan dengan
tiga contoh saja dari tiga orang
sahabat yang telah
mengungkapkan hakikat
kenikmatan itu, sebab berbagai
pengorbanan yang telah mereka
lakukan. Mereka itu adalah:
Rabu pukul 9:21 · Suka
Tanya Jawab Masalah Islam 1.
Bilal bin Rabah r.a.
Ketika disiksa diterik panas
matahari untuk memaksanya kafir,
sementara ia hanya bisa mengucap,
“ Ahad, Ahad.” Ia campur pahitnya
siksaan dengan manisnya iman. Ia
telah bersenyawa dengan
kenikmatan iman. Demikian juga
saat menjelang kematiannya,
ketika keluarganya mengatakan
alangkah susahnya, tapi beliau
sendiri justru mengatakan, duhai
alangkah senangnya karena besok
saya akan menjumpai kekasih-
kekasihku, Muhammad dan para
sahabatnya. Bercampurlah pahitnya
kematian dengan nikmatnya
pertemuan itu, itulah kenikmatan
iman.
2. Seorang sahabat yang kudanya
dicuri pada suatu malam, saat ia
sedang shalat. Ia melihat saat
pencuri itu mencuri kudanya, namun
ia tidak memutuskan shalatnya.
Ketika ditanya tentang hal itu ia
menjawab, “Apa yang sedang aku
lakukan lebih besar dari itu.” Ini
tidak lain karena kenikmatan iman.
3. Dua orang sahabat yang
diperintahkan Rasulullah Saw.
sebagai penjaga malam pada
sebuah peperangan. Salah seorang
tidur, sedangkan yang lain
menunaikan shalat. Tiba-tiba ada
mata-mata dari pihak musuh
datang. Melihatnya, mata-mata itu
melepaskan anak panah dan
mengenainya. Namun demikian
sahabat ini tetap meneruskan
shalatnya dan tidak
menghentikannya. Mata-mata itu
melepaskan panah yang kedua dan
mengenainya pula, namun ia tidak
memutuskan shalatnya. Kemudian
dilepaslah kepadanya anak panah
yang ketiga dan mengenainya.
Pada panah yang ketiga inilah ia
baru membangunkan sahabatnya.
Ia berkata “Kalaulah bukan karena
kekhawatiranku terhadap
keselamatan kaum Muslimin, tentu
aku tidak menghentikan sholat-ku. ”
Hal itu tidak dilakukannya kecuali
karena besarnya kenikmatan yang
ia rasakan dalam shalat, hingga
menghilangkan rasa sakit akibat
anak panah yang mengenai dirinya.
Muhadats: orang yang benar
dugaannya seolah-olah ada yang
membisikinya.wallohu'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar